Sunday, September 17, 2006

Akhir yang Baik
Perjalanan hidup seseorang tak hanya makan, minum, tidur, kerja, bersenang-senang, bersedih-sedih, dan semua kondisi keseharian. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui dengan benar dan bijak untuk satu tujuan. Karena hidup, bukan berarti mati, sebaliknya mati bukan berarti hidup. Ada satu tujuan hidup untuk kehidupan setelah mati.
Ia, manusia bisa saja mengalami kesenangan, kesedihan, atau tanpa rasa sama sekali. Semua adalah pilihan untuk dapat diambil konsekuensinya. Melangkah! tanpa henti, karena perjalanan ini masih panjang dan tak pernah tahu ujung itu.
Detik ini, hanya bagian dari detik berikutnya yang menentukan suatu akhir kehidupan. Apapun itu, sebuah akibat di belakangnya mengikuti. Maka yang terpenting adalah 'hal' yang mengikuti. Mendefinisikan 'hal' menjadi akhir yang baik bukanlah mudah. Ada pengorbanan, untuk menang. Ada perjuangan untuk akhir yang baik. Khusnul Khatimah di jalan Allah.

Friday, August 18, 2006

Seandainya Gie Tahu

Untuk kedua kalinya aku menonton film GIE kemarin. Setelah beberapa bulan yang lalu aku menontonnya secara tak sengaja di tengah kesibukan mengejar deadline tugas di lab. Sama seperti saat pertama kali aku menonton, perjalanan hidup Gie selalu berhasil mengobarkan semangat idealisme setiap orang, khususnya aku.

Gie yang dilahirkan sebagai seorang anak keturunan Tionghoa tak pernah berubah pendiriannya. Keteguhan akan nilai-nilai yang diyakininya benar, harus diperjuangkan meski harus dengan perlawanan. Idealisme yang sangat sulit ditemukan sejak dulu apalagi sekarang.

Apapun bentuk ketidakadilan yang ditemuinya, tak peduli, ia pasti menentangnya. Mulai dari kesewenangan yang dialami Han sahabatnya, Guru yang tak menerima kritik, sampai kediktatoran pemimpin bangsanya. Bahkan ketika pemimpin ditaktor yang telah dijatuhkannya bersama perjuangan rekan mahasiswa di zamannya berganti menjadi kuasa militer yang lebih kejam. Ia tetap teguh di jalannya, jalan kebenaran.

”lebih baik dikucilkan daripada tenggelam dalam kemunafikan” adalah kata-kata yang terucap ketika semakin hari ia merasa kian sendiri. Semua orang yang dulu berjuang bersama-sama di kemahasiswaan, satu per satu menghilang, luluh dengan kenikmatan kekuasaan. Batasan kebenaran menjadi samar, idealisme sudah basi.

Merasa lelah dalam kesendirian bersama teka-teki keadilan tak berbatas yang terus menjadi pertanyaan dalam pikirannya. Gie bersatu bersama alam, ia merasa beruntung kematian datang di usia mudanya. Namun sayang, Gie masih belum menemukan jawaban, dimanakah kebenaran. Seandainya Gie tahu, seandainya cahaya kebenaran hakiki datang padanya saat itu, tak perlu lagi ia terus bertanya dalam sepi keresahan manusia.

Wednesday, July 19, 2006

Merantau! Pilihan, untuk tetap menuntut ilmu

Suatu ketika, seorang anak sangat merindukan berkumpul dengan orang tuanya. Setelah setiap hari bergelut dengan kesibukan di perantauannya. Tak terkira setiap saat hatinya didera rasa pilu untuk segera pulang ke rumahnya. Meski tak pernah lebih dari sebulan ia berdiam diri di sana.


Lebih dari delapan tahun lamanya, ia seorang anak manusia rela tinggal terpisah jauh dari orang tua. Melalui hari-hari bersama orang-orang baik yang baru dikenalnya. 'Hanya' dengan satu alasan, meski saat itu belum benar-benar disadarinya, menuntut ilmu.

Beranjak dari jenjang terendah, saat ia masih duduk di bangku SMP, hingga kini ketika tiba di tahun keempat studinya di perguruan tinggi, tak juga ia yakin benar-tentang ilmunya.

Perubahan suasana dari satu tempat ke tempat yang baru, terasa memberi suntikan semangat baru baginya. Namun entah alasan apa, hampir di titik akhir studinya ia belum juga sadar, adakah yang diperoleh selama perantauan. Sesuatu telah menyumbat aliran informasi bawah sadarnya, sehingga selama itu tak juga kontribusi nyata yang ditunjukkannya.

Bahkan, terkadang dirasakan, orang-orang baik di sekelilingnya tak lagi sama. Pupus sedikit demi sedikit asa di wajah mereka. Yang ada, kesal tak terkira untuk kesekian kali, atas ketergantungannya.

Mungkin, memang ia telah melewatkan banyak hal penting. Hal-hal yang harus diupayakannya. Hal-hal yang membayangi dalam benak dan bebannya namun tak sadar menjadi kabut tebal di mata hatinya.

Hidup adalah ketetapan, namun menjalani kehidupan adalah sebuah pilihan. Menjalani kehidupan dengan menuntut ilmu dengan segala konsekuensi di dalamnya pun menjadi salah satu pilihan yang mesti dijalani.

Monday, June 12, 2006

Pintu-pintu gerbang perjalanan menuju jenjang berikutnya kini sedang terbuka. Setiap sudut ruangan di kampus ini masih saja menunjukkan kesibukan. Meski ruang parkir jauh lebih lapang dari hari biasa. Satu per satu mereka melewati titik penentuan nasib. Meski tak semua nasib ditentukan di sana.

Pertanyaan-pertanyaan yang meluncur lebih mirip dengan 'ujian' memaksa pikiran melayang hingga ingatan pada masa awal perkuliahan. Permulaan yang bisa dibilang agak tak sadar akan tindakan yang dilakukan, mungkin. Terbukti tak sedikit yang tak berhasil menghadirkan kembali memori di ruang sidang.

Bukan hal mudah memang, untuk menjadi 'yang tidak biasa' apalagi di bulan juli. Namun tak mustahil untuk diperjuangkan. Sebuah mimpi hanya angan-angan jika tak dituliskan. Minimal, dituliskan..selanjutnya tentu saja diwujudkan. Tiga bulan, bukti itu akan hadir. Apakah 'semua' akan hanya sebuah angan-angan atau menjadi mimpi yang menjelma menjadi kenyataan.

wallahu'alam bishowab.

Friday, June 02, 2006

Hari ini ujian terakhir di kuliah yang (mungkin) terakhir. Begitu cepat berlalunya waktu untuk bermanfaat. Tantangan di masa yang akan datang tampak di depan mata. Semua akan terus bergulir dan takkan berhenti, kecuali untuk terlindas, dan hanya menjadi suatu yang sia-sia.

dibuka dengan basmalah

Masih dengan tugas menanti, matahari tetap 'bergerak' membelakangi bumi, sehingga langit menjadi gelap. Open House di kedua gedung simbol lampaunya kampus ini, didatangi silih berganti generasi baru di awal semester depan (jika mereka berhasil). Wajah dan gerik penuh harapan. Mungkin cita-cita, saatnya bergerak sekarang!!!